Menu Utama

Google Search

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday116
mod_vvisit_counterYesterday146
mod_vvisit_counterThis week492
mod_vvisit_counterLast week1009
mod_vvisit_counterThis month2910
mod_vvisit_counterLast month3852
mod_vvisit_counterAll days127043

MEKANISASI VS PADAT KARYA

Sepanjang republik ini ada, gambaran kemakmuran dan kemajuan sektor pertanian sulit sekali dijabarkan secara rinci. Malahan, stigmatisasi bahwa petani Indonesia adalah wajah kemiskinan dari hari ke hari semakin jelas saja dari waktu ke waktu. Meski ikrar Indonesia sebagai negara agraris dan keberpihakan para penguasa telah dicanangkan, siapapun pemimpinnya, nasib para petani masih berkubang dengan kemiskinan dan kemelaratan. Mereka dijerat dengan persoalan-persoalan di luar akal sehatnya, dari rendahnya harga gabah, kenaikan harga kebutuhan pokok, langkanya pupuk, maupun kekeringan.

Sebuah data yang dilansir BPS beberapa waktu lalu, menunjukkan tidak sehatnya kondisi sektor pertanian. Pada 1997 seorang pekerja sektor pertanian hanya menghasilkan output senilai Rp 1,7 juta selama satu tahun. Simak pendapatan seorang pekerja sektor industri menghasilkan Rp 9,5 juta di tahun yang sama. Pada 2005 pekerja di sektor pertanian menghasilkan Rp 6,1 juta, sementara pekerja di sektor industri dapat meraup hingga Rp 41,1 juta. Inilah ironi, kelompok petani yang selama ini telah berjasa bagi pembangunan pertanian khususnya, dan pembangunan ekonomi Indonesia umunya, begitu memprihatinkan.

Bicara soal output, produktivitas, maupun hasil pertanian, ditengarai banyak dipengaruhi oleh masih diberlakukannya sistem pengelolaan pertanian dengan cara-cara tradisional, seperti menggunakan sapi atau kerbau untuk membajak sawah, perontokan dengan tangan, serta menggarap lahan dengan memprioritaskan tersedianya lapangan kerja yang mampu menampung tenaga kerja dengan jumlah banyak atau padat karya.

Karenanya, muncullah kebijakan untuk menciptakan pola pengelolaan pertanian dengan dengan cara modern dan melibatkan alat-alat mekanik maupun mesin pertanian (alsintan). Jika nantinya para petani menggunakan peralatan modern seperti membajak sawah dengan traktor, proses perontokan, pengeringan, dan sampai pada proses akhir dari produksi pertanian, diharapkan munculnya produktivitas kerja maupun peningkatan kualitas maupun hasil-hasil pertanian. Di masa yang akan datang diharapkan sektor pertanian kembali menarik minat para generasi muda dan akan menjadi andalan yang bisa membangkitkan nasional.

Begitulah idealnya. Sayangnya, penerapan program mekanisasi ini belum sepenuhnya dilakukan. Sebaliknya, di beberapa tempat kita jumpai adanya penolakan dari kelompok masyarakat maupun para petani mengenai program ini. Alasannya beragam. Mulai dari adanya kekhawatiran munculnya persoalan baru, memburuknya lapangan kerja di desa, hingga dugaan akan terpinggirkannya para petani kecil.

Penggunaan teknologi mekanisasi pada usaha tani dianggapkan akan menyebabkan kemampuan lahan dalam menampung tenaga kerja menjadi berkurang. Ketidakmampuan sektor pertanian menampung tenaga kerja diduga juga menjadi penyebab timbulnya gejala migrasi desa kota yang semakin meningkat. Migrasi desa kota juga disebabkan oleh ketimpangan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah. Disparitas antara desa dan kota semakin lebar dan menimbulkan bentuk kota sebagai pusat sedangkan desa sebagai pinggiran. Begitulah seterusnya.

Secara jujur harus kita akui, mekanisasi memang membuat tatatan pola pikir maupun paradigma kita berubah. Pertanian yang semula identik dengan tenaga kerja dalam jumlah banyak, kini menjadi lebih efisien dengan dilibatkannya mesin-mesin. Jika dulu proses produksi tanaman pangan lebih dititikberatkan pada sistem padat karya, kini kini menjadi padat modal dan teknologi.

Di sejumlah negara tetangga, yang memiliki produktivitas pertanian yang terus meningkat, penerapan mekanisasi merupakan hal yang lumrah. Sektor pertanian tak ubahnya sebuah industri yang melibatkan alat-alat berat dengan tenaga kerja yang efektif dan efisien. Kendati tak melibatkan tenaga kerja dalam jumlah banyak, jangan ditanya soal hasil maupun produktivitasnya. Hasil garapan di sejumlah negara ini selalu mengalami kenaikan.

Diadopsinya mekanisasi dalam bidang pertanian sejatinya adalah untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja sektor pertanian itu sendiri. Singkatnya, proses mekanisasi pertanian memiliki tujuan untuk meningkatkan produksi ataupun pendapatan para petani maupun tenaga kerja di bidang pertanian, serta untuk memperluas lahan produktif melalui proses ekstensifikasi pertanian. Peningkatan produktivitas ini pada akhirnya akan mempengaruhi kesejahteraan dan kemakmuran petani sendiri.

Memang, waktu yang dihabiskan para petani di sawah akan berkurang. Mereka juga tidak lagi bertani secara on farm. Namun, waktu yang lebih longgar ini dapat dimanfaatkan untuk melakukan kegiatan sampingan yang lebih produktif, seperti beternak, berdagang, berwirausaha, dan sebagainya. Dengan demikian, hasil produksi pertanian makin bertambah, pendapatan sampingan para petani pun melimpah. Jika sudah begitu, siapa yang tak mau?

Last Updated ( Thursday, 06 August 2009 17:52 )  
You are here: Home Resonansi MEKANISASI VS PADAT KARYA

Lates News

Popular News

Perpadi

Web ini adalah situs resmi Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (PERPADI).