Menu Utama

Google Search

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday82
mod_vvisit_counterYesterday147
mod_vvisit_counterThis week840
mod_vvisit_counterLast week763
mod_vvisit_counterThis month2249
mod_vvisit_counterLast month3852
mod_vvisit_counterAll days126382

PENGGUNAAN THRESHER PADI PEDAL MODEL LIPAT SEBAGAI SALAH SATU UPAYA MENGURANGI SUSUT PANEN PADI

altPerontok padi pedal model lipat yang memiliki keunggulan manuverabilitas yang tinggi memungkinkan alat tersebut berpindah dari satu petakan ke petakan yang lain untuk mendekati padi yang akan dirontok dan bukan sebaliknya padi diangkut menuju alat perontok yang memungkinkan adanya butir tercecer.

 

Berbagai uapaya peningkatan produksi padi terus dilakukan oleh Pemerintah namun demikian secara nasional susut produksi selama pasca panen pada daerah daerah sentra produksi padi selama lebih dari dua dasawarsa terakhir masih tinggi yakni masih berkisar antara 12 - 20 % (Kompas, 2005) dari sejak pemanenan sampai dengan tahap penggilingan dengan kontribusi susut karena perontokan lebih dari 4,8 % (BPS, 1998). Disamping itu pengamatan sebuah lembaga pangan Jepang (1995) menunjukkan bahwa susut hasil berupa butir tercecer yang disebabkan oleh angkutan padi setelah dipanen ke tempat perontokan antara 1,4 –8,2 %.  Oleh karena itu berkenaan dengan susut hasil yang terjadi pada kegiatan pengangkutan di sawah dan pada proses perontokan, maka upaya untuk menekan susut hasil tersebut ialah dengan mendekatkan antara lokasi perontokan dengan padi yang akan dirontokkan.

Dengan demikian diperlukan alternatif alat perontok padi yang memiliki manuverabilitas yang tinggi artinya bahwa alat perontok tersebut mudah dipindahkan mendekati padi yang akan dirontok maupun berpindah dari satu petakan ke petakan sawah lainnya, ringan, dan bahkan bisa menjadi alat angkut peralatan lainnya yang diperlukan selama perontokan (gambar 1).  Gagasan dasarnya ialah alat perontok yang dapat didorong seperti alat angkut sorong satu roda dan untuk itu konstruksi alat perontok harus bisa dilipat seperti kursi lipat.

alt

Gambar 1

Thresher padi pedal model lipat saat didorong dan dibawa  ke sawah mendekati bahan padi yang akan dirontokkan (kiri), pada saat dioperasikan (tengah) dan dibawa kembali ke rumah petani (kanan).

Konstruksi Thresher Padi Pedal Model Lipat
Bagian utama thresher padi pedal model lipat (pedal thresher lipat) terdiri dari:

  1. Rangka utama, terdiri dari dua rakitan kerangka dari bahan konstruksi dengan sebagian besar dari pipa besi yang dikaitkan pada posisi tertentu sebagai titik putar antara kedua rakitan kerangka tersebut;
  2. Silinder perontok, terbuat dari bahan papan kayu di sisi kiri dan kanan serta kisi-kisi kayu tebal 30 mm lebar 50 mm sebagai tempat kedudukan gigi perontok berbahan besi beton Ø 5 mm berbentuk huruf "V" terbalik;
  3. Sistim penyalur daya putaran, yang terdiri dari as bagian belakang roda sepeda lengkap dengan gir (free-wheel sprocket).  As dipotong pada bagian tengah dan as dalam disambung dengan besi beton Ø 10 mm sepanjang lebar silinder perontok, sedangkan potongan as bagian luar yang tanpa gir dipasang pada titik pusat bagian luar papan silinder perontok sebelah kiri dan potongan as bagian luar yang dilengkapi dengan gir dipasangkan di sebelah kanan;
  4. Tuas pedal, terbuat dari pipa besi dilengkapi dengan papan pedal di salah satu ujung pipa dan ujung pipa yang lain dikaitkan pada salah satu ujung rantai sepeda yang dilingkarkan pada bagian atas gir, sedangkan ujung rantai yang lain disambung dengan karet bekas ban dalam sepeda yang selanjutnya bagian ujung lain dari karet ban diikatkan pada kerangka di dekat papan pedal;
  5. Papan penyalur gabah, terbuat dari kayu lapis tebal 9 mm dengan kerangka terbuat dari besi beton Ø 8 mm dan papan ini juga berfungsi sebagai penahan kedua kerangka utama pada saat alat dibuka atau diberdirikan;
  6. Penutup dan tatakan, bisa dilepas dari rangka utama dan dilipat seperti kipas atau kanvas penutup atas becak.  Penutup terbuat dari bahan plastik sak pupuk yang dijahitkan pada bilah bilah plat strip;
  7. Roda, bisa dipasang atau dilepas dari rangka utama terbuat dari kayu silinder Ø 120 mm panjang 200 mm dengan as dari besi beton yang dikaitkan ke garpu dan rangka pipa besi. Untuk mempercepat pembuatan dan pemasangan gigi perontok dengan tetap mempertahankan keseragaman bentuk "V" dan dengan ketinggian yang sama pada saat di pasang pada silinder perontok, maka diperlukan alat bantu (jig and fixture) seperti  terlihat pada gambar2.  Sedangkan cara membuat komponen rakitan silinder perontok lihat gambar 3.
alt

Gambar 2

Alat bantu (Jig and fixture) gigi bentuk "V" untuk perontok padi pedal

 

alt alt

Gambar 3

Cara membuat silinder perontok dengan menggunakan Sistim Transmisi As Roda Belakang Sepeda Kayuh

 

Cara Mengoperasikan, Keunggulan Dan Manfaat
Keunggulan dari pedal thresher lipat ini ialah:

  1. Manuverabilitas relatif lebih tinggi untuk dibawa ke sawah mendekati bahan padi yang akan dirontokkan maupun berpindah dari satu petakan ke petakan sawah yang lain;
  2. Hanya perlu satu orang untuk mentransport, melipat dan membuka;
  3. Bisa berfungsi sebagai alat angkut sorong untuk perlengkapan keperluan yang berkenaan dengan kegiatan perontokan;
  4. Mudah dibuat oleh bengkel sederhana dengan bahan konstruksi yang tersedia di pedesaan;
  5. Gabah terlempar karena perontokan hampir tidak ada karena seluruh silinder perontok tertutup kerudung sampai ke bawah.

Kapasitas kerja perontokan alat ini ialah 90 –120 kg/jam (GKP) dengan tingkat kebersihan 95-96 %, gabah tidak terontok 0,66 %, berat total alat 18 kg, sistim pengumpanan dipegang (hold on) dan ideal untuk dioperasikan oleh satu orang operator.

Cara melipat-mendorong-membuka-mengoperasikan thresher padi model lipat ini ialah: (lihat ilustrasi gambar diagram 4)

alt

Gambar 4

Diagram cara melipat dan membuka Pedal Thresher Lipat pada saat operasi, transportasi, dan selesai operasi.

  1. Proses melipat (asumsi arah menghadap seperti pada diagram)
    • Lepas penutup dengan mencabut dari dudukannya dan kemudian dilipat seperti menutup kipas tangan (1);
    • Pasangkan roda yang semula tempat penutup terpasang;
    • Injak pipa dudukan kerangka utama depan (titik P) dengan kaki kanan sebagai titik putar, kemudian pegang ujung pipa kerangka utama bagian atas dan angkat/putar ke arah seperti tanda panah ke kanan (2) dan rebahkan ke tanah (3). Pada saat pipa kerangka utama diputar ke kanan, dengan sendirinya papan peluncur gabah yang terkait pada pipa kerangka belakang akan terlepas dan akan terdorong ke kiri (4).  Pada posisi thresher rebah di tanah, papan peluncur gabah dan pipa kerangka utama belakang akan tertumpang di atas pipa kerangka utama depan dan keseluruhan alat yang telah terlipat bertumpu pada roda dan ujung lainnya untuk stang pengendali;
    • Tumpangkan penutup di atas thresher yang telah dilipat;
    • Angkat pipa kerangka utama bagian depan (5) sebagai stang kendali, sehingga alat bertumpu pada roda di bagian ujung lainnya.
  2. Cara membuka, adalah kebalikan dari cara melipat :
    • Sisi roda angkat ke atas dan sisi stang kendali di bawah;
    • Pada kondisi berdiri, tumpukan alat pada stang kendali kemudian geser kerangka belakang menggunakan kaki kiri sampai papan peluncur gabah mengkait pada kerangka belakang;
    • Lepas roda dan pasang penutup.

Analisis biaya operasi alat perontok tersebut ialah Rp. 30,-/kg.  Dengan demikian bila diasumsikan harga GKP Rp. 1000,-/kg, sehingga bila disetarakan bagi hasil perontokan antara peemilik alsin : pemilik padi ("bawon") hanya sebesar  1 : 30.  Dengan demikian ‘bawon’ (bagi hasil) perontokan menggunakan menggunakan alsin yang diintroduksikan jauh lebih murah dibandingkan cara manual dimana data yang diperoleh dari lapangan ialah sebesar 1 : 15 sampai dengan 1 : 12  (setara dengan Rp 65,-/kg ~ Rp. 80,-/kg).  Sedangkan titik kembali modal (BEP) dicapai pada 80 – 90 jam kerja (10 –11 hari kerja per musim) atau kurang dari satu musim perontok beroperasi.

Jenis teknologi thresher lipat ini merupakan salah satu alternatif teknologi perontokan padi untuk dikembangkan sebagai upaya menekan susut hasil padi dengan pertimbangan pada kapasitas, harga, kemudahan operasi, kemudahan adopsi oleh perajin lokal, serta adaptasi secara cepat.  Meningkatkan kemudahan akses para petani terhadap teknologi dengan meningkatkan kinerja indigenous technology dan atau memperkenalkan teknologi baru yang disempurnakan yang dengan mudah didapatkan dan dikembangkan sendiri oleh masyarakat setempat.  Kunci utama pendekatan tersebut adalah:

  • Adanya prototype yang memiliki kinerja baik dan teruji;
  • Adanya pengrajin lokal atau yang berada di dekat lokasi untuk memperpendek jarak pengguna (petani) dan produsen teknologi;
  • Harga teknologi dapat lebih dijangkau oleh kemampuan ekonomi petani;
  • Berfungsinya penyuluh pertanian untuk mengerti, memahami, dan menguasai dalam mengembangkan teknologi.

alt

Rudy Tjahjohutomo
Perekayasa Madya Pada Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian

 

Last Updated ( Thursday, 06 August 2009 17:47 )  
You are here: Home Inovasi Panen Dan Pasca Panen PENGGUNAAN THRESHER PADI PEDAL MODEL LIPAT SEBAGAI SALAH SATU UPAYA MENGURANGI SUSUT PANEN PADI

Lates News

Popular News

Perpadi

Web ini adalah situs resmi Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (PERPADI).