Menu Utama

Google Search

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday94
mod_vvisit_counterYesterday109
mod_vvisit_counterThis week961
mod_vvisit_counterLast week763
mod_vvisit_counterThis month2370
mod_vvisit_counterLast month3852
mod_vvisit_counterAll days126503

PEMBERIAN PUPUK BERIMBANG UNTUK MENGOPTIMALKAN HASIL GABAH PADA PERTANAMAN PADI

Pemberian pupuk berimbang dalam kajian ini bukan berarti memberikan pupuk N, P dan K dalam jumlah seimbang untuk tanaman padi. Yang dimaksud pemupukan berimbang dalam kajian ini adalah pemberian pupuk N, P dan K disesuaikan dengan target hasil gabah yang ingin dicapai, sumbangan hara N, P dan K berasal dari tanah serta kekurangan hara untuk mencapai target hasil tersebut dengan penambahan pupuk anorganik dalam bentuk pupuk urea, SP-36 dan KCl. Berdasar teori dikatakan bahwa hasil gabah ditentukan oleh faktor tanah, tanaman dan lingkungan.

 

Faktor lingkungan seperti halnya radiasi matahari, curah hujan, kelembaban udara dan lain-lain merupakan faktor yang tidak dapat dikelola oleh manusia sehingga faktor tersebut kita terima sebagaimana adanya. Faktor tanah dan tanaman merupakan faktor-faktor yang memungkinkan untuk dimodifikasi sesuai dengan karakteristik yang diperlukan tanaman padi guna hasil tinggi. Upaya yang dilakukan untuk memperbaiki kemampuan tanaman berproduksi lebih tinggi antara lain perakitan tanaman dengan daun yang lebih tegak untuk dapat menerima cahaya matahari lebih banyak, sistem perakaran yang lebih kokoh dalam menjelajah lapisan tanah yang lebih dalam, tanaman yang tanggap terhadap pemupukan, dan lain-lain. Berbagai cara dapat dilakukan agar faktor tanah dapat optimal untuk menumbuhkan tanaman yang tumbuh di atas tanah. Pemberian bahan organik ataupun pupuk organik salah satu cara untuk memperbaiki kesuburan tanah.

 

Selama ini kebanyakan tanah sawah untuk budidaya tanaman padi diperlakukan seperti barang tambang dimana tanah dieksploitasi secara besar-besaran untuk dapat menghasilkan padi dengan produktivitas tinggi dari musim ke musim tanpa pengembalian jerami padi sisa panen ke dalam tanah sawahnya. Perlakuan tersebut menyebabkan kondisi tanah semakin lama semakin tidak mendukung lagi untuk menghasilkan hasil gabah tinggi. Gejala tersebut diistilahkan sebagai tanah sakit. Salah satu cara untuk memulihkan tanah sakit tersebut adalah pemberian pupuk organik atau bahan organik ke dalam tanah sawahnya. Pupuk organik ataupun bahan organik banyak mengandung unsur karbon (C) dalam bahan tersebut. Unsur karbon tersebut digunakan oleh mikroorganisme tanah sebagai sumber energi untuk perkembang biakannya. Oleh karena itu salah satu cara untuk mengetahui tanah itu subur atau tidak subur dengan melihat populasi cacing tanah yang hidup di tanah tersebut. Semakin tinggi populasi cacing tanahnya semakin subur kondisi tanahnya, demikian pula sebaliknya. Cacing tanah bergerak ke atas dan ke bawah dalam lapisan tanah. Oleh karena bergerak terus menerus tersebut menyebabkan tanah ibarat seperti diolah dengan hasil tanah menjadi lebih remah (gembur), sirkulasi udara dalam tanah menjadi lebih baik, air yang masuk ke dalam lapisan tanah menjadi lebih cepat dan lain-lain. Dengan adanya mikroorganisme di dalam tanah maka proses perombakan bahan organik menjadi lebih intensif. Hasil perombakan tersebut dilepaskan berbagai hara yang dapat dimanfaatkan tanaman. Berdasar hasil penelitian diperoleh informasi bahwa sumbangan hara N, P dan K dari tanah sawah beririgasi mampu mensuplai kebutuhan hara N, P dan K tanaman sampai 60 %, 80 % dan 80 % untuk target hasil gabah sebesar 6 t/ha.. Besar sumbangan hara N, P dan K dari tanah masing-masing sebesar 50 kg/ha, 15 kg/ha dan 80 kg/ha. Sementara itu untuk target hasil gabah 6 ton/ha diperlukan hara N, P dan K masing-masing sebanyak 90 kg/ha, 16 kg/ha dan 90 kg/ha. Dengan demikian tambahan hara dari luar dalam bentuk pupuk urea, SP-36 dan KCl masing-masing sebanyak 110 kg urea/ha, 25 kg SP-36/ha dan 60 kg KCl/ha.

Untuk mendapatkan hasil gabah 1 ton, tanaman padi memerlukan hara N sebesar 17 – 18 kg, sedangkan untuk kebutuhan P dan K masing-masing 3 kg dan 17 kg. Dengan demikian bila diharapkan hasil gabah sebesar 6 t/ha maka banyaknya urea, SP-36 dan KCl yang diperlukan masing-masing sebesar 230 kg, 115 kg dan 205 kg. Bila para petani mau mengembalikan jerami sisa panennya ke dalam tanah sawahnya, maka mereka tidak perlu lagi memberi pupuk KCl karena 80 % hara kalium yang terserap tanaman terakumulasi pada jerami. Disamping itu air irigasi juga mampu mensuplai hara kalium cukup tinggi. Berdasar hasil pengukuran hara kalium terangkut pada air irigasi Tarum Timur Jawa Barat menunjukkan bahwa pengayaan (enrichment) hara kalium sebesar 23 kg K2O/ha/musim atau setara.38 kg KCl/ha/musim. Hara kalium terangkut air irigasi dapat menambah hara tanah sawah yang cukup signifikan.

Semakin subur tanah sawahnya, semakin sedikit tambahan pupuk untuk makanan tanamannya. Secara teoritis efisiensi penggunaan pupuk urea sebesar 30 – 40 % sehingga 60 – 70 % pupuk urea yang diberikan tanaman hilang ke udara melalui proses denitrifikasi. Sementara itu efisiensi penggunaan pupuk SP-36 berkisar 20 –25 %, sisa P yang tidak terserap tanaman terakumulasi dalam lapisan tanah. Efisiensi penggunaan pupuk KCl juga relatif rendah yaitu berkisar 30 – 40 % namun hara K yang tidak terserap tanaman tidak hilang ke udara tetapi terakumulasi di dalam lapisan tanah. Oleh karena itu pemberian pupuk P dan K tidak harus setiap musim namun dapat dilakukan setiap 4 musim untuk P dan 6 musim untuk K. Pemberian pupuk P dan K setiap 4 dan 6 musim sekali ditujukan untuk menggantikan P dan K yang terangkut tanaman saat panen. Efisiensi penggunaan pupuk urea dapat ditingkatkan melalui pemberian urea secara split/terbagi yaitu pada waktu tanaman umur 7-10 hari setelah tanam (HST), 21 HST dan 42 HST, atau juga melalui monitoring warna daun dengan alat bagan warna daun (BWD), atau juga dengan pemberian urea tablet yang dibenam ke dalam tanah.

 

PENUTUP

Pemberian pupuk anorganik seperti urea, SP-36 dan KCl perlu dilengkapi dengan pemberian pupuk organik. Kedua jenis pupuk tersebut dapat saling melengkapi kekurangan masing-masing. Kelemahan pupuk anorganik antara lain dapat menyebabkan kerusakan struktur tanah seperti tanah menjadi lebih keras dan pH tanah menjadi lebih masam namun kelebihannya mempunyai kandungan hara yang tinggi dan segera tersedia bagi tanaman. Sementara itu kekurangan pupuk organik seperti kandungan hara yang rendah dan tidak segera tersedia bagi tanaman namun dapat memperbaiki kualitas tanah. Penambahan pupuk organik idealnya 2 ton/ha dapat diberikan sekaligus ataupun diberikan secara berangsur-angsur sampai mencapai takaran 2 ton/ha. Pupuk organik yang diberikan ke dalam tanah dapat berupa pupuk kandang ataupun jerami yang dikomposkan.  Kombinasi penggunaan pupuk organik dan anorganik diharapkan mampu menciptakan kondisi yang optimum bagi pertumbuhan tanaman padi, efisiensi penggunaan pupuk lebih baik dan hasil gabah lebih tinggi secara lumintu/berkesinambungan (sustainable).

Ir. Iwan Juliardi, MS
BB Padi
Jl Raya 9 Sukamandi, Subang, Jabar

Last Updated ( Thursday, 06 August 2009 17:44 )  
You are here: Home Inovasi Budidaya PEMBERIAN PUPUK BERIMBANG UNTUK MENGOPTIMALKAN HASIL GABAH PADA PERTANAMAN PADI

Lates News

Popular News

Perpadi

Web ini adalah situs resmi Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (PERPADI).